<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5896654013987469453</id><updated>2011-07-31T00:19:48.544-07:00</updated><title type='text'>Perkawinan Adat Bali</title><subtitle type='html'>Perkawinan Adat Bali | Foto pre wedding sampai menikah di Bali</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://perkawinanadatbali.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5896654013987469453/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkawinanadatbali.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Wahyu Prayasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09642998269140091099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3lgo3GYA4CE/TNhY8VGNNoI/AAAAAAAAAEU/4UGS-IIwEgA/S220/ym-wah-tegang.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>1</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5896654013987469453.post-6492428134506308658</id><published>2010-02-22T21:05:00.001-08:00</published><updated>2010-02-22T21:06:40.699-08:00</updated><title type='text'>Sekilas perkawinan adat Bali</title><content type='html'>Umat Hindu mempunyai tujuan hidup yang disebut Catur Purusa Artha              yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Hal ini tidak bisa diwujudkan              sekaligus tetapi secara bertahap.                     &lt;br /&gt;     &lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="480"&gt;         &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;            &lt;td class="verdana8point" valign="top"&gt;              &lt;p&gt;Tahapan untuk mewujudkan empat tujuan hidup itu disebut dengan                Catur Asrama. Pada tahap Brahmacari asrama tujuan hidup diprioritaskan                untuk mendapatkan Dharma. Grhasta Asrama memprioritaskan mewujudkan                artha dan kama. Sedangkan pada Wanaprasta Asrama dan Sanyasa Asrama                tujuan hidup diprioritaskan untuk mencapai moksa.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Perkawinan atau wiwaha adalah suatu upaya untuk mewujudkan tujuan                hidup Grhasta Asrama. Tugas pokok dari Grhasta Asrama menurut lontar                Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut "Yatha                sakti Kayika Dharma" yang artinya dengan kemampuan sendiri                melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu                mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini. Kemandirian dan profesionalisme                inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang Hindu yang                ingin menempuh jenjang perkawinan.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Dalam perkawinan ada dua tujuan hidup yang harus dapat diselesaikan                dengan tuntas yaitu mewujudkan artha dan kama yang berdasarkan Dharma.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Pada tahap persiapan, seseorang yang akan memasuki jenjang perkawinan                amat membutuhkan bimbingan, khususnya agar dapat melakukannya dengan                sukses atau memperkecil rintangan-rintangan yang mungkin timbul.                Bimbingan tersebut akan amat baik kalau diberikan oleh seorang yang                ahli dalam bidang agama Hindu, terutama mengenai tugas dan kewajiban                seorang grhastha, untuk bisa mandiri di dalam mewujudkan tujuan                hidup mendapatkan artha dan kama berdasarkan Dharma.&lt;/p&gt;             &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;       &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;     &lt;br /&gt;     &lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="480"&gt;         &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;            &lt;td class="verdana8point" valign="top"&gt;              &lt;p&gt;&lt;b&gt;Menyucikan Diri&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;            &lt;td class="verdana8point" valign="top"&gt;              &lt;p&gt;Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan                kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki                karmanya. Dalam kitab suci Sarasamuscaya sloka 2 disebutkan "Ri                sakwehning sarwa bhuta, iking janma wang juga wenang gumaweakenikang                subha asubha karma, kunang panentasakena ring subha karma juga ikang                asubha karma pahalaning dadi wang" artinya: dari demikian banyaknya                semua mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja                yang dapat berbuat baik atau buruk. Adapun untuk peleburan perbuatan                buruk ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Berkait dengan sloka di tas, karma hanya dengan menjelma sebagai                manusia, karma dapat diperbaiki menuju subha karma secara sempurna.                Melahirkan anak melalui perkawinan dan memeliharanya dengan penuh                kasih sayang sesungguhnya suatu yadnya kepada leluhur. Lebih-lebih                lagi kalau anak itu dapat dipelihara dan dididik menjadi manusia                suputra, akan merupakan suatu perbuatan melebihi seratus yadnya,                demikian disebutkan dalam Slokantara.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt; Perkawinan umat Hindu merupakan suatu yang suci dan sakral, oleh                sebab itu pada jaman Weda, perkawinan ditentukan oleh seorang Resi,                yang mampu melihat secara jelas, melebihi penglihatan rohani, pasangan                yang akan dikawinkan. Dengan pandangan seorang Resi ahli atau Brahmana                Sista, cocok atau tidak cocoknya suatu pasangan pengantin akan dapat                dilihat dengan jelas.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt; Pasangan yang tidak cocok (secara rohani) dianjurkan untuk membatalkan                rencana perkawinannya, karena dapat dipastikan akan berakibat fatal                bagi kedua mempelai bersangkutan. Setelah jaman Dharma Sastra, pasangan                pengantin tidak lagi dipertemukan oleh Resi, namun oleh raja atau                orang tua mempelai, dengan mempertimbangkan duniawi, seperti menjaga                martabat keluarga, pertimbangan kekayaan, kecantikan, kegantengan                dan lain-lain. Saat inilah mulai merosotnya nilai-nilai rohani sebagai                dasar pertimbangan.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Pada jaman modern dan era globalisasi seperti sekarang ini, peran                orang tua barangkali sudah tidak begitu dominan dalam menentukan                jodoh putra-putranya. Anak-anak muda sekarang ini lebih banyak menentukan                jodohnya sendiri. Penentuan jodoh oleh diri sendiri itu amat tergantuang                pada kadar kemampuan mereka yang melakukan perkawinan. Tapi nampaknya                lebih banyak ditentukan oleh pertimbangan duniawi, seperti kecantikan                fisik, derajat keluarga dan ukuran sosial ekonomi dan bukan derajat                rohani.&lt;/p&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;       &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;     &lt;br /&gt;     &lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="480"&gt;         &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;            &lt;td class="verdana8point" valign="top"&gt;              &lt;p&gt;&lt;b&gt;Makna dan Lambang&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;            &lt;td class="verdana8point" valign="top"&gt;              &lt;p&gt;UU Perkawinan no 1 th 1974, sahnya suatu perkawinan adalah sesuai                hukum agama masing-masing. Jadi bagi umat Hindu, melalui proses                upacara agama yang disebut "Mekala-kalaan" (natab banten),                biasanya dipuput oleh seorang pinandita. Upacara ini dilaksanakan                di halaman rumah (tengah natah) karena merupakan titik sentral kekuatan                "Kala Bhucari" sebagai penguasa wilayah madyaning mandala                perumahan. Makala-kalaan berasal dari kata "kala" yang                berarti energi. Kala merupakan manifestasi kekuatan kama yang memiliki                mutu keraksasaan (asuri sampad), sehingga dapat memberi pengaruh                kepada pasangan pengantin yang biasa disebut dalam "sebel kandel".&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Dengan upacara mekala-kalaan sebagai sarana penetralisir (nyomia)                kekuatan kala yang bersifat negatif agar menjadi kala hita atau                untuk merubah menjadi mutu kedewataan (Daiwi Sampad). Jadi dengan                mohon panugrahan dari Sang Hyang Kala Bhucari, nyomia Sang Hyang                Kala Nareswari menjadi Sang Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara                Ratih.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Jadi makna upacara mekala-kalaan sebagai pengesahan perkawinan                kedua mempelai melalui proses penyucian, sekaligus menyucikan benih                yang dikandung kedua mempelai, berupa sukla (spermatozoa) dari pengantin                laki dan wanita (ovum) dari pengantin wanita.&lt;/p&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;       &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;     &lt;br /&gt;     &lt;table align="center" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="480"&gt;         &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;            &lt;td class="verdana8point" valign="top"&gt;              &lt;p&gt;&lt;b&gt;Peralatan Upacara Mekala-kalaan&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;         &lt;tr&gt;            &lt;td class="verdana8point" valign="top"&gt;              &lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Sanggah Surya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Di sebelah kanan digantungkan biyu lalung dan di sebelah kiri                  sanggah digantungkan sebuah kulkul berisi berem. Sanggah Surya                  merupakan niyasa (simbol) stana Sang Hyang Widhi Wasa, dalam hal                  ini merupakan stananya Dewa Surya dan Sang Hyang Semara Jaya dan                  Sang Hyang Semara Ratih.                  &lt;p&gt;Biyu lalung adalah simbol kekuatan purusa dari Sang Hyang Widhi                    dan Sang Hyang Purusa ini bermanifestasi sebagai Sang Hyang                    Semara Jaya, sebagai dewa kebajikan, ketampanan, kebijaksanaan                    simbol pengantin pria.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Kulkul berisi berem simbol kekuatan prakertinya Sang Hyang                    Widhi dan bermanifestasi sebagai Sang Hyang Semara Ratih, dewa                    kecantikan serta kebijaksanaan simbol pengantin wanita.&lt;br /&gt;               &lt;br /&gt;                            &lt;/p&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt; &lt;b&gt;Kelabang Kala Nareswari (Kala Badeg)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Simbol calon pengantin, yang diletakkan sebagai alas upakara mekala-kalaan                  serta diduduki oleh kedua calon pengantin.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;             &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Tikeh Dadakan (tikar kecil)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Tikeh dadakan diduduki oleh pengantin wanita sebagai simbol selaput                  dara (hymen) dari wanita. Kalau dipandang dari sudut spiritual,                  tikeh dadakan adalah sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Prakerti                  (kekuatan yoni).&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;             &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Keris &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Keris sebagai kekuatan Sang Hyang Purusa (kekuatan lingga) calon                  pengantin pria. Biasanya nyungklit keris, dipandang dari sisi                  spritualnya sebagai lambang kepurusan dari pengantin pria.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;             &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Benang Putih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Dalam mekala-kalaan dibuatkan benang putih sepanjang setengah                  meter, terdiri dari 12 bilahan benang menjadi satu, serta pada                  kedua ujung benang masing-masing dikaitkan pada cabang pohon dapdap                  setinggi 30 cm.                  &lt;p&gt;Angka 12 berarti simbol dari sebel 12 hari, yang diambil dari                    cerita dihukumnya Pandawa oleh Kurawa selama 12 tahun. Dengan                    upacara mekala-kalaan otomatis sebel pengantin yang disebut                    sebel kandalan menjadi sirna dengan upacara penyucian tersebut.&lt;/p&gt;                 &lt;p&gt;Dari segi spiritual benang ini sebagai simbol dari lapisan                    kehidupan, berarti sang pengantin telah siap untuk meningkatkan                    alam kehidupannya dari Brahmacari Asrama menuju alam Grhasta                    Asrama.&lt;br /&gt;               &lt;/p&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Tegen - tegenan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Makna tegen-tegenan merupakan simbol dari pengambil alihan tanggung                  jawab sekala dan niskala.&lt;br /&gt;               Perangkat tegen-tegenan :&lt;br /&gt;               - batang tebu berarti hidup pengantin artinya bisa hidup bertahap                  seperti hal tebu ruas demi ruas, secara manis.&lt;br /&gt;               - Cangkul sebagai simbol Ardha Candra. Cangkul sebagai alat bekerja,                  berkarma berdasarkan Dharma&lt;br /&gt;               - Periuk simbol windhu&lt;br /&gt;               - Buah kelapa simbol brahman (Sang Hyang Widhi)&lt;br /&gt;               - Seekor yuyu simbol bahasa isyarat memohon keturunan dan kerahayuan.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;             &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Suwun-suwunan (sarana jinjingan)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Berupa bakul yang dijinjing mempelai wanita, yang berisi talas,                  kunir, beras dan bumbu-bumbuan melambangkan tugas wanita atau                  istri mengmbangkan benih yang diberikan suami, diharapkan seperti                  pohon kunir dan talas berasal dari bibit yang kecil berkembang                  menjadi besar.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;             &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Dagang-dagangan &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Melambangkan kesepakatan dari suami istri untuk membangun rumah                  tangga dan siap menanggung segala Resiko yang timbul akibat perkawinan                  tersebut seperti kesepakatan antar penjual dan pembeli dalam transaksi                  dagang.&lt;br /&gt;             &lt;br /&gt;             &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Sapu lidi (3 lebih) &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Simbol Tri Kaya Parisudha. Pengantin pria dan wanita saling mencermati                  satu sama lain, isyarat saling memperingatkan serta saling memacu                  agar selalu ingat dengan kewajiban melaksanakan Tri Rna, berdasarkan                  ucapan baik, prilaku yang baik dan pikiran yang baik, disamping                  itu memperingatkan agar tabah menghadapi cobaan dan kehidupan                  rumah tangga.                                 &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt; Sambuk Kupakan (serabut kelapa)&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Serabut kelapa dibelah tiga, di dalamnya diisi sebutir telor bebek,                  kemudian dicakup kembali di luarnya diikat dengan benang berwarna                  tiga (tri datu). Serabut kelapa berbelah tiga simbol dari Triguna                  (satwam, rajas, tamas). Benang Tridatu simbol dari Tri Murti (Brahma,                  Wisnu, Siwa) mengisyaratkan kesucian.                  &lt;p&gt;Telor bebek simbol manik. Mempelai saling tendang serabut kelapa                    (metanjung sambuk) sebanyak tiga kali, setelah itu secara simbolis                    diduduki oleh pengantin wanita. Apabila mengalami perselisihan                    agar bisa saling mengalah, serta secara cepat di masing-masing                    individu menyadari langsung. Selalu ingat dengan penyucian diri,                    agar kekuatan triguna dapat terkendali. Selesai upacara serabut                    kalapa ini diletakkan di bawah tempat tidur mempelai.&lt;br /&gt;               &lt;/p&gt;               &lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;b&gt;Tetimpug&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;               Bambu tiga batang yang dibakar dengan api dayuh yang bertujuan                  memohon penyupatan dari Sang Hyang Brahma.             &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;           &lt;/td&gt;         &lt;/tr&gt;       &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;                                          &lt;p&gt;Setelah upacara mekala-kalaan selesai dilanjutkan dengan cara membersihkan                diri (mandi) hal itu disebut dengan "angelus wimoha" yang                berarti melaksanakan perubahan nyomia kekuatan asuri sampad menjadi                daiwi sampad atau nyomia bhuta kala Nareswari agar menjadi Sang                Hyang Semara Jaya dan Sang Hyang Semara Ratih agar harapan dari                perkawinan ini bisa lahir anak yang suputra.&lt;/p&gt;             &lt;p&gt;Setelah mandi pengantin dihias busana agung karena akan natab di                bale yang berarti bersyukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Selanjutnya                pada hari baik yang selanjutnya akan dilaksanakan upacara Widhi                Widana (aturan serta bersyukur kepada Hyang Widhi). Terakhir diadakan                upacara pepamitan ke rumah mempelai wanita. (sumber: &lt;a href="http://undanganku.info/sekilas-perkawinan-adat-bali.html"&gt;http://www.undanganku.info&lt;/a&gt;)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5896654013987469453-6492428134506308658?l=perkawinanadatbali.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://perkawinanadatbali.blogspot.com/feeds/6492428134506308658/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://perkawinanadatbali.blogspot.com/2010/02/sekilas-perkawinan-adat-bali.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5896654013987469453/posts/default/6492428134506308658'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5896654013987469453/posts/default/6492428134506308658'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://perkawinanadatbali.blogspot.com/2010/02/sekilas-perkawinan-adat-bali.html' title='Sekilas perkawinan adat Bali'/><author><name>Wahyu Prayasa</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09642998269140091099</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_3lgo3GYA4CE/TNhY8VGNNoI/AAAAAAAAAEU/4UGS-IIwEgA/S220/ym-wah-tegang.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
